Kamis, 21 Juli 2011

Viana, Malam Menggerogoti Tubuhku


Malam menggerogoti tubuhku, Viana. Lihat saja, bulan yang hanya sejengkal di atas pelataran itu, kenapakah harus kubiarkan? Apalagi yang terus kudambakan? Setetah senja takluk oleh malam. Setelah malam melabrak lampu-lampu di jalan. 
Apalagi yang harus kuharapkan?

 
ilustrasi: tjak, montase foto (net & dok. pribadi)


















Senja boleh lindap, Viana. Dan malam,  labraklah lampu-lampu di jalan yang pernah dibangun oleh proyek kenyang rupiah dari dana APBD itu. Aku sedang malas untuk peduli. Tapi bulan. Ah, bagaimana malam akan melabrak bulan? Justeru karena alasan yang seperti ini, aku mulai tak peduli dengan lampu-lampu jalanan.
Bulan, seperti katamu, kecuali ia mengutuki kita dengan menenggelamkan dirinya ke dasar bumi. Kecuali langit tengah sesak oleh gegap gempita mendung. Kecuali ia jatuh ke dasar kolam lalu padam. Kecuali ia tiba-tiba berbentuk kotak-kotak dan tersendat-sendat menggelinding menuju sempurnanya purnama. Kita mampus, Viana!
“Full moon blues!”
“Ya, aku juga suka lagu itu.”
Tapi tak sepenuhnya kata itu kau ucapkan. Kau suka lagu itu. Ya, bahwa kau juga jatuh cinta pada malam, aku bisa pahami. Pemahamanku berdasarkan satu alasan: kau punya selera yang mudah kurasakan dengan cara yang lain.
Tapi kita tak punya pantai, Viana. Itu jugalah yang membuatmu marah. Permasalahannya bukan karena benar-benar tak ada pantai. Bukan. Karena kita tahu, bahwa kota tempat tinggal kita saat itu, senyatanya dikepung oleh lautan luas. Tentu, secara logika tiap laut pastilah punya pantai. Kita pernah menyisiri gigir pantai bukan hanya pada senja dengan matahari berwarna oranye saja, tetapi kita juga merasa sangat kehilangan jika melewatkan purnama. Bayangkan,  full moon blues, Viana!
Barangkali  karena akhir pekan  kita di beberapa kali purnama selalu terganggu. Tak pernah ada privacy, bahkan di pantai yang sesenyap kamar mandi. Nyaris tak ada bedanya, ketika kita berusaha bertahan lebih lama menikmati malam di bawah bulan. Maafkan ketidak mampuanku memberimu sebuah tempat yang paling sederhana pun di kota ini. Hingga akhirnya, seperti pilihan kita (kukira), kita seolah merasa lebih enjoy di bawah langit, meringkuk di pulau pasir.
Tapi dasar sial, Viana! Selalu saja ada yang berubah menjadi preman-preman pantai  yang gayanya melebihi polisi pantai di serial bay wacth waktu itu.  Padahal kita selalu menyempatkan barang sebotol dua cocacola yang mereka tawarkan dengan tarif dolar. Dan kita, adalah sepasang turis domestik yang terperangkap dalam sebuah pulau eksotik dengan segala kesan: kita berduit, berada, royal dan lain-lain. Maka hancurlah malam-malam kita. Lalu kita memilih sebuah pantai dalam dunia benak kita.

***

Malam menggerogoti tubuhku, Viana. Lihat saja. Bulan yang hanya sejengkal di atas pelataran itu, kenapakah harus kubiarkan? Apalagi yang mesti kudambakan? Setelah senja berkecil hati  karena malam. Setelah malam melabrak lampu-lampu di jalan. Apalagi yang akan kuharapkan?
Aku menyukai malam. Kau tak sekadar latah. Aku tahu,  sudah  seribu sekian malam kau lalui  bersamaku. Di atas balkon. Di atap rumah. Di pelataran. Di taman kota. Di pantai-pantai yang bertebaran dolar. Bulan yang hanya sejengkal di atas kita itu, kenapakah harus kita lewatkan?
Duh, Viana. Malam benar-benar telah menggerogoti tubuhku. Sudah seribu sekian kuhitung  bintang jatuh. Sudah seribu sekian kugumamkan permintaan. Doa yang bertubi-tubi. Harapan yang tumpang tindih. Begitu cemaskah aku?

***

Insomnia. Ah, darimana pula kita mengantungi kata itu? Bukan itu sebenarnya yang kita puja. Aku tahu, jika kau bisa kau pun akan membencinya. Tulang-tulang kita serasa patah. Ceruk mata kita kian dalam. Benak-benak kita kian gelisah. Kita begitu mudah jatuh,  dan kerap perasaan kehilangan menyergap kita  pada malam-malam ketika kota kecil ini begitu lama  ditinggalkan cahaya. Beruntung, masih ada bulan. Kita masih bisa merasai remang sinarnya. Kita masih bisa bersyukur  ketika didera rutinitas pemadaman listrik (maafkan, di kotaku listrik menyala 24 jam, tetapi pernah harus antre mendapat giliran, harus hemat, betapapun semakin banyak orang yang tak bisa menabung). Tetapi kita mampu menabung kenangan, bukan? Seingatku kita juga pernah sama-sama ditenggelamkan oleh  euforia para penyandang sakit asmara. Sakit, Viana!
Dan kita tak pernah menyerah.
Ya, aku tak pernah menyerah, Viana. Betapapun malam begitu larut menggerogoti tubuhku. Setelah seribu sekian malam kau lalui bersamaku?

***

Maka Viana, sejak malam-malam itu aku terus mengingat percakapan ini:
Viana  : “Senja itu hanya matahari menjelang bunuh diri!”
Aku  : “Bukan, Viana.  Itu dakwaan yang sungguh keji dan penuh tendensi.”
Viana :“Lihat saja jika kau tak percaya. Orang-orang hanya lalu lalang. Atau bersembunyi di balik bilik berjeruji gengsi. Berapa dolar mereka tebarkan? Hanya untuk menghabiskan angin pantai, misalnya. Apa mereka juga benar-benar mengagumi matahari yang berwarna oranye?
Aku : “ Mereka pasti banyak melewatkan yang lainnya.”
Viana : “Misalnya?”
Aku : “Senja, dan tentu saja full moon blues?”
Viana : “Tidak praktis begitu. Itu hanya masalah pilihan berdasarkan kemampuan.”
Aku : “Ah, kau mulai bicara standar finansial.”
Viana : “Bukan. Bagi mereka yang punya uang makan-makan dan long time di kamar berbintang. Bagi mereka yang tak punya uang, minumnya di warung kopi, dan bermalam di emper balkon kost-kostan murahan.
Aku:  “Apa kau membenci kota ini?”
Viana: “Untung masih ada bulan. Aku tak punya alasan untuk terus-terusan membencinya.”
Aku:“Kau (maafkan aku) seperti turis kesasar. Hanya memuja, mengagumi dan menjadikan pulau ini seperti museum. Hanya mampir, lalu pergi dengan berbagai macam kritikan.”  
Viana: “Aku punya semangat eksotik. Apa itu salah? Bukankah kita adalah sedikit dari bagian yang tersisa?  Setelah tubuh dan pikiran kita digerogoti malam?”
Aku: “Oke. Aku bisa pahami itu. Setidaknya sampai kau benar-benar pergi dan membawa riset kecilmu tentang kotaku ini. Berapa kau dibayar untuk itu?”
Kau diam. Wajahmu memerah tomat. Mata sempitmu merunduk pada butiran pasir yang berkerumun di kaki. Kaki coklatmu yang kian coklat oleh matahari di tanah yang pernah agraris ini.

***

Malam terus menggerogoti tubuhku, Viana. Lihat saja. Bulan yang hanya sejengkal di atas pelataran itu, kenapakah harus kubiarkan? Apalagi yang mesti kudambakan? Setelah senja ditakut-takuti oleh malam. Setelah malam melabrak lampu-lampu jalanan. Apalagi yang terus kuharapkan?
Percayalah. Aku tak berlebihan semangat eksotik sepertimu. Hanya merasa apa yang kau katakan - dalam percakapan terkhir sebelum kau pergi itu - ada benarnya.
Tak pernah sekalipun aku melupakan, bahwa kau pernah mempertautkanku dengan senja, dengan bulan  yang tiba-tiba berbentuk kotak-kotak dan tersendat-sendat menggelinding menuju sempurnanya purnama.  Selama itukah kita telah bersabar menunggu?
Ah, Viana. Malam benar-benar telah menggerogoti tubuhku. Sudah beribu sekian kuhitung  bintang jatuh. Sudah beribu sekian kugumamkan permintaan. Doa yang bertubi-tubi. Harapan yang tumpang tindih tentang kecemasan-kecemasanku terhadapmu, terhadap kota dimana aku terus tinggal ini.

(cerpen Tjak S Parlan)

Rabu, 20 Juli 2011

rumahsore: dua puisi pagi dan hutan kopi

rumahsore: dua puisi pagi dan hutan kopi: "Sehelai Rambut Pagi foto: TopTropicals.com /crop Sehelai rambut Memutih di bantalku pagi ini Sun..."

rumahsore: Ingatan Tentang Sarang Burung

rumahsore: Ingatan Tentang Sarang Burung: "ilustrasi: tjak; Bunga Kopi Aku ingin membuat sarang. Senyumnya mengembang setiap kali kali..."

rumahsore: Di Kamar Sonia

rumahsore: Di Kamar Sonia: "ilustrasi: net Saya memerhatikan caranya mengapit rokok rendah tar . Kedua jari panjangnya meruncing..."

Di Kamar Sonia

ilustrasi: net
 Saya memerhatikan caranya mengapit  rokok rendah tar. Kedua jari panjangnya meruncing ke ujung menjadi bentuk yang cantik. Tanpa cat, kukunya hadir dengan  warna putih bersemu kuning: warna yang  selalu pantas bagi kebanyakan perokok. Gaya mengulumnya serasi dengan bibir bagusnya yang basah, seolah dua lengkung yang indah itu terbuat dari bahan yang tak mudah terbakar. Lihat saja, nyaris tanpa lipstik, nyaris tanpa kerak-kerak pecah dari sisa nikotin yang biasanya melekatkan warna suram yang mengering di ujung bibir siapa saja. Saputan warna yang tak mencolok  itu, ketika ikut merapat dengan gerakan mengulum, adalah detail yang mau tak mau musti saya perhatikan sejak berjam-jam lalu. Gerak bibirnya saat menghirup lalu melepaskannya dengan sedikit dorongan udara yang keluar melewati bibir, menciptakan asap yang panjang-panjang. Kadang ia membuat lingkaran sepatutnya untuk menambah kombinasi berbentuk gelembung-gelembung kecil. Sebenarnya mirip lingkaran-lingkaran mini dengan gerakan melayang-layang yang susul menyusul. Atau-jika saya larut terus menerus- lingkaran-lingkaran itu akan menyerupai gelang-gelang kecil berwarna putih, lentur dan dilempar-lempar semau-maunya ke udara sehingga mudah pecah. Pecah-pecahan itu berubah menjadi lautan kabut seperti di gunung. Warnanya gradasi putih, meruang dan menjadi laten di seluruh ruangan. Sesekali memang ditingkahi kilasan merah kekuningan berbaur dengan redup cahaya berkekuatan 10 Watt. Tak urung kilasan itu menghasilkan bunyi nyaring: cetus korek api di sebuah dini hari dengan gerimis kecil di luar. Di dalam, saya berbagi kegundahan dengannya. Masih memaksakan Peter Cincotti melantunkan Some Kind of Wonderful di telinganya, mencetuskan nyala korek api tepat di ujung bibirnya, menangkap wajah misteriusnya dalam balutan kabut asap yang  terbakar dari batang ke sekian belas.
All you have to do is touch my hand/To show me that you understand/And something happens to me/That's some kind of wonderful ….

***

Itu malamnya. Paginya, saya tak mau keluar kamar. Wajah Sonia sembab membujuk-bujuk saya. Dari sudut matanya menetas gelembung-gelembung kecil yang bening. Ketika saya tertunduk karena tak tahan oleh serbuan matanya yang iba, mata saya terantuk ujung gaunnya yang basah. Sudah berapa lama ia menangis? Seharusnya saya yang paling tahu setiap detail yang ia lakukan: saat ia menangis, tertawa atau kedua-duanya.
Saya tahu ketika ia mulai lelah menjelaskan, tarikan nafasnya selalu panjang-panjang. Ia tahu, ini bukan lagi saatnya menyimpan sendiri. Ia butuh melepaskannya dengan hembusan yang sama pula: pelan dan panjang. Saya juga berada di depannya ketika ia membunuh rasa jengahnya. Menyalakan batang demi batang di bibirnya yang basah tanpa saputan. Bertubi-tubi, ia menghirup dan menghempaskan. Sebuah aktifitas tarik-ulur  yang dilakukan dengan sempurna seperti reaksi normal yang ia tampilkan atas kegundahannya. Saya juga masih di sana ketika ia berkali-kali mencoba tertawa, memaksa saya mengingat kembali kejadian-kejadian kecil- yang menurut tuduhannya- selalu  saya giring ke arah romansa. Saya berusaha mampu mengimbanginya. Cukup lama untuk sebuah ukuran ketahanan yang saya bangun dari bahan tertentu yang mudah getas. Hanya sampai ketika tangannya menguraikan genggaman saya sambil memberikan satu predikat baru yang membuat laki-laki seperti saya dan semacamnya lebih mudah patah. 
Tapi saya tetap  merajuk. Bersikukuh malah! Saya katakan padanya selalu ada yang menyercah-bahkan yang lebih terang dari itu-nyala benderang di luar sana yang  akan membawanya pergi dari kamar ceruk suram serupa kuburan ini. Betapapun bukan bersama saya akhirnya, saya berharap itu semua tidak akan mendatangkan masalah bagi saya juga bagi Sonia.
Saya sempat runtuh sewaktu Sonia bilang bahwa percuma saja tinggal lebih lama di tempat ini, terutama di kamarnya. Dengan berbagai macam alasan yang menurutnya paling logis, ia terus-terusan mengusir saya dengan caranya yang persuasif seperti biasanya.
”Sejujurnya, aku tak pernah merasa kamu benar-benar pulang ke tempat ini.”
Sejujurnya, itu kalimat paling tertata yang diucapkan Sonia sejak kami mengambang semalaman di kamarnya. Saya seperti baru tersadar dari mimpi paling panjang yang bahkan tak pernah saya sadari kapan datangnya. Seingat saya, selepas dari kamar-kamar yang lain, saya selalu menemukan kedamaian di tempat ini. Ketukan pintu di setiap dini hari, tatapan geram Sonia yang tersembunyi di balik asap rokok, kantung mata hangat yang kutatap lama-lama ketika Sonia baru terbangun, atau pertanyaan-pertanyaan sederhana mengenai kejadian ganjil dalam mimpi di sepanjang tidur  saya. Sejauh itu Sonia selalu memberikan jawaban yang memuaskan. Tentu saja, sejauh semua itu masih terjadi dalam kamar ini. Tapi bukan  tentang rahasia-rahasia yang terjadi di belahan bumi lain. Ada kalanya satu sama lain berusaha saling jujur. Bukan rekor yang membanggakan saya kira, jika saya, terlebih Sonia merasa tahu bahwa saat-saat seperti itu  terkadang dibutuhkan. Toh, kami gagal mengatasi semua anggapan bahwa apapun yang terjadi pada kami dengan yang lain, nyatanya hanya semacam peryataan sopan yang kami kemas serapi mungkin. Sementara, di sisi lain selalu ada kebohongan-kebohongan kasar sebagai isinya. Jika itu yang terjadi, saya dan Sonia mulai berlomba menjadi siapa yang berhak menyandang  reputasi sebagai pencetus api kecemburuan paling besar di antara kami.
”Mungkin karena saya benar-benar belum menemukan rumah yang sebenar-benarnya,”saya menimpali Sonia dengan perasaan mendadak seolah-olah ingin memerbaiki semuanya.
”Berarti bukan aku tujuanmu, kan?”
”Saya selalu tertuju ke sini. Ke kamu. Ke tempatmu.”
”Ah, sudahlah. Kita tak boleh meminta terlalu banyak, kecuali ada kepastian. Kamu juga tahu, bersamamu, seperti yang sering kamu bilang, aku hanya menang kenangan. Seperti romantisme kanak-kanak?”
”Maaf,  kalau yang kamu maksud saya harus menemukan ukuran kedewasaan, saya tak bisa. Apalagi kalau ukuran itu adalah keberanian untuk merusakmu!” jawab saya dengan menambahkan tekanan tinggi pada kata ”merusak”.
Sonia terdiam. Saya sebenarnya menyesal dengan kata-kata saya tadi. Tapi apa boleh buat, hanya itu jawaban yang tersedia dalam hati dan mulut saya.
Sonia terbungkam. Hanya sejenak, sebab kemudian ia menerkam ke arah saya. Dan, saya, seperti biasanya, tak memiliki insting apapun untuk menghindar dari sergapannya. Tubuh lampai ini dibiarkan begitu saja serupa onggokan daging yang mangkrak ditinggalkan pemiliknya. Dicakar-cakar, ditampar-tampar, digoyang-goyangkan sehingga berguguranlah semua kegilaan  pada diri saya.
Itu bisa membuat Sonia kembali reda. Saya tidak mengambil kesempatan ini untuk berlaku romantis dengan menggiringnya ke wilayah romansa seperti dulu-dulu. Saya cuma katakan padanya bahwa saya benar-benar akan pergi setelah gerimis di luar reda. Berteduh, itu bahasa yang saya gunakan berikutnya. Dengan sedikit kesia-siaan, saya diijinkannya tetap tinggal. Setelah itu, Sonia dan saya menghapiskan waktu dengan diam. Diam secara lahiriah, sementara di benak saya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tak menentu yang tak akan pernah lagi keluar dari mulut saya secara nyata.

***

Malamnya, hampir setengah  jam saya hanya mendengar gemericik air. Bukan dari gerimis di luar, tapi dari kamar mandi di dalam kamar ini. Setelah pandangan saya terantuk ujung gaunnya yang basah tadi pagi. Setelah satu dua percakapan yang hanya bisa terjelaskan oleh kami. Setelah goncangan-goncangan itu-yang dilampiaskan Sonia pada tubuh dan jiwa saya. Setelah janji saya untuk pergi selepas gerimis reda di luar. Setelah Sonia berani menjamin akan menemukan hidup yang sebenar-benarnya setelah  semua ini. Setelah saya tahu secara diam-diam sebuah rahasia yang tak pernah diungkapkan oleh siapapun, kecuali dengan menatap gelagat seorang ayah yang menyimpan keinginan yang sama seperti saya. Setelah semua itu,  saya  hanya menerima rupa-rupa amarah darinya yang tak pernah saya sentuh. Ah, andai saya punya keberanian semacam ayah. Tentu dengan sedikit kesadaran, sedikit buaian, mungkin saja saya akan bisa mencari waktu yang tepat untuk singgah ke kamar ini. Tapi, bukankah saya selalu pulang ke ceruk yang curam dan suram seperti ini?
Ingat, bersama ketukan pintu di dini hari selepas para pelanggan pulang dari kamar ini, saya menjadi laki-laki terakhir yang paling sopan memperlakukan Sonia!
Kalaupun Sonia bisa melakukannya di tempat lain bersama ayah, apa bedanya dengan para hidung belang yang selalu membayar lebih di kamar ini. Ah, apakah ayah juga melakukannya di kamar ini. Bagaimana cara ayah melakukannya? Apa seperti saya yang tiba-tiba dihantam haru biru acap kali menatap wajah kelelahan Sonia teronggok di sudut kamar?
Gemericik air itu lama-lama mengganggu saya. Padahal, sebelum berangkat saya hanya ingin mendengar suara Sonia. Saya mencari-cari dengan nanar ke seluruh kamar. Tak ada apa-apa, bahkan barang-barang sederhana yang pernah menghuni kamar ini. Saya juga tak mendengar Peter Cincotti melantunkan Some Kinds of  Wonderful yang biasa saya paksakan nyelip di telinga Sonia lewat iPod pemberian ayah kepadanya. Saya tahu, Sonia tak pernah menyukai lagu itu. Mungkin karena isinya tak pernah menyentuh hubungan kami berdua.
Saya ingat janji saya untuk pergi. Sambil menahan sisa pening di kepala, saya bangkit menuju kamar mandi. Tak ada apa-apa di Sana, selain kran yang dibiarkan mengucur, sikat gigi, sabun, odol dan handuk yang sepi, diam di tempatnya masing-masing. Saya sempat berharap bahwa Sonia akan meninggalkan pesan singkat dengan goresan lipstik pada cermin buram yang terpancang di dinding kamar mandi. Mungkin Sonia menitipkan memo kecil pada sobekan bungkus rokok, nota pembelian pil antibiotik dari apotik, atau pada sobekan kertas kalender kadaluarsa. Tapi tidak. Saya tidak menemukan apa-apa, bahkan hingga saya memeriksa setiap pesan yang masuk dalam HP saya. Saya sadar akhirnya, tak selamanya perpisahan akan menyertakan pesan kecil yang akan memudahkan pelakunya melakukan perjalanan ke tempat kenangan.
Mungkin ada satu petunjuk yang bisa membantu saya menemukan tempatnya. Tentu, saya akan menemukannya. Lewat tangis tertahan seorang ibu yang tak pernah mengandung anaknya. Lewat seorang ayah yang akan mengikat pertalian suci bersama Sonia dengan satu alasan pokok: mendapatkan penerus keluarga yang bukan seperti saya. Saya tahu, tempatnya adalah di depan para hadirin, saudara-saudara, para undangan sekalian.  Yang pasti, itu tak akan pernah terjadi di depan ibu apalagi di depan saya. Tapi sejenak saya ragu: jika saya tak berada di Sana, jika saya masih di kamar Sonia, bisakah saya menatap wajah ayah meringis kesakitan dengan tiga lubang peluru di keningnya? Satu untuk saya, satu untuk ibu, satu untuk Sonia.
Gemetar tangan saya ragu membuka pintu. Tapi tubuh dan perasaan saya lebih cepat menuju kesana. Ke suatu tempat dimana Sonia akan menjadi ibu kedua saya yang kehilangan suaminya.
Mataram, 23-09- 2007

(cerpen tjak s parlan)

Senin, 18 Juli 2011

Another Year

Empat Musim Menampung Kesunyian

Tom (Jim Broadbent)  dan Gerri (Ruth Sheen) adalah pasangan yang ‘bersahaja. Memiliki sebuah rumah, pekerjaan, seorang anakyang patuh pada orang tua, dan kebun bunga indah tempat melengkapi kebahagiaan di usia senja. Namun tak semua orang bisa seberuntung Tom dan Gerri. Lihat saja nasib yang menghampiri Mary, Ken atau Ronie. Tiga sosok terakhir adalah karakter yang mewakili penderitaan di sekitar kebahagiaan keluarga tersebut.

Another Year, cerita tentang kesunyian.
Mary adalah perempuan yang kurang beruntung di masa tuanya. Pasca-perceraian membuatnya depresi hingga adict terhadap rokok dan alkohol serta hiperbolik dalam segala hal. Hari-harinya penuh dengan cerita bohong hanya untuk menutupi kegugupannya di masa-masa kesendirian. Sementara itu,  Ken adalah sosok laki-laki bertubuh kenyang. Ia lamban dalam segala hal kecuali kegilaannya terhadap makanan. Meski begitu, ia sebenarnya pribadi yang baik dan penuh semangat. Di balik kesendiriannya sepanjang waktu, Ken adalah perangai yang paling berisik danmenyimpan fanatisme supoter bola di masa mudanya. Sedangkan Ronie—kakak tertua Tom—mengalami masa-masa suram yang panjang dalam rumah tangganya. Ia menutup pintu rumahnya, menutup diri dan tak bicara. Ia memiliki seorang anak yang tak pernah pulang hingga kematian ibunya: istri Ronie yang malang.

Bintang yang paling moncer dalam film ini adalah Lasley Manville. Sepanjang kehadirannya di empat musim yang berbeda (spring, autum, summer, winter) Manville nyaris sempurna menerjemahkan sosok Mary. Mary yang didera krisis identitas, di rundung kesunyian dan makin menua. Di samping itu kehadiran Ruth Sheen yang berperan sebagai Gerri jangan pula dilewatkan. Dalam film yang diberi titel Another Year ini, ia mampu menjadi seorang Ibu yang bijak sekaligus perhatian kepada kepada keluarga. Ruth Sheen bahkan mampu menjadi seorang psikiater bagi  Mary. Kemampuan akting mereka di film inimampu meraih piala British Award di kategori Best Actress dan Best Supporting Actress.

Another Year merupakan salah satu film yang mendapat nominasi Oscar untuk kategori Best Original Screenplay Februari silam.Cukup puas menjadi nominator setelah dikalahkan oleh David Seidler untuk film The King’s Speech,  film ini jelas tetap menarik untuk kita saksikan bersama. Menonton Another Year seperti perasaan Anda ketika menampung kisah-kisah suram dari sahabat-sahabat tercinta. Mungkin, itu cerita tentang kesunyian yang  datang dalam empat musim yang berbeda.  (selamat menonton!)


Genre
:
Drama
Release Date
:
November 5, 2010
Director
:
Mike Leigh
Script
:
Mike Leigh
Producer
:
Georgina Lowe
Distributor
:
Momentum Pictures
Duration
:
129 minutes


                

(resensi film tjak s parlan,  dimuat di koran kampung edisi 37, juni 2011)

dua puisi pagi dan hutan kopi


Sehelai Rambut Pagi

foto: TopTropicals.com/crop
Sehelai rambut
Memutih di bantalku pagi ini

Sungguh, betapa usia tak pernah jauh dari ranjang
Tua bisa dibohongi
Tapi usia lebih suka memilih warnanya sendiri
Seperti pagi ini
Kutemukan usia pada sehelai rambut
Rapuh ia, menyerah pada putihnya pagi

26  Maret  2009



Mencemburui  Pagi

Pagi ini, aku masih seranjang dengan pagi
Jangan cemburu
Manakala pagi melenguh untukku
Sebab lenguhan pagi seperti teratai
Rekah parasnya mengawali hidup dari kolam matamu
yang  menyimpan beribu-ribu plankton mimpi

Selamat pagi
Maafkan, jika siang  masih setia mengubah warna
Pada kolam matamu
yang semalam meriwayatkan percumbuan

Aku juga telah mengabadikan
Pada setiap percakapan dalam  roman yang terselip di lipatan gaun tidurmu
Hingga pagi mekar dan mengajakku tanpa henti
Mengusahakan perjumpaan
Hingga kita tak pernah lagi mencemburui pagi

Maret 2009


Hutan Kopi di Rambutmu

Aku ingin menemukan sarang burung
dan jejak pemburu yang tersesat 
di hutan kopi  
menggelap di rambutmu

Aku  telah menemukannya       satu saja
pejantan  dengan paruh ringkih
dan  rerumput garing
yang dibawa-bawanya dari  padang gembala
ketika musim kering   

Tapi nampaknya   penghujan akan mendera lagi
Di musim kawin paling subur
dinginnya       masihlah kawan berbagi
Dan  di  mangsa  kelahiran
pasti dibutuhkan lebih banyak  angkasa
yang akan kuambil
sebelum  para pemburu  dan  kedatangan burung-burung itu
merompaknya
agar  kelak      anakanakku  bisa berbagi  tempat mengitarinya

Aku ingin membuat  sarang
dari  ingatan-ingatan warna hijau  berseri
yang menjadi gelap
pada hutan kopi
                         di rambutmu

Mataram,  Desember  2009

(puisi tjak s parlan, dimuat koran kampung, edisi 41, 13-19 juli 2011)