Rabu, 20 Juli 2011

Di Kamar Sonia

ilustrasi: net
 Saya memerhatikan caranya mengapit  rokok rendah tar. Kedua jari panjangnya meruncing ke ujung menjadi bentuk yang cantik. Tanpa cat, kukunya hadir dengan  warna putih bersemu kuning: warna yang  selalu pantas bagi kebanyakan perokok. Gaya mengulumnya serasi dengan bibir bagusnya yang basah, seolah dua lengkung yang indah itu terbuat dari bahan yang tak mudah terbakar. Lihat saja, nyaris tanpa lipstik, nyaris tanpa kerak-kerak pecah dari sisa nikotin yang biasanya melekatkan warna suram yang mengering di ujung bibir siapa saja. Saputan warna yang tak mencolok  itu, ketika ikut merapat dengan gerakan mengulum, adalah detail yang mau tak mau musti saya perhatikan sejak berjam-jam lalu. Gerak bibirnya saat menghirup lalu melepaskannya dengan sedikit dorongan udara yang keluar melewati bibir, menciptakan asap yang panjang-panjang. Kadang ia membuat lingkaran sepatutnya untuk menambah kombinasi berbentuk gelembung-gelembung kecil. Sebenarnya mirip lingkaran-lingkaran mini dengan gerakan melayang-layang yang susul menyusul. Atau-jika saya larut terus menerus- lingkaran-lingkaran itu akan menyerupai gelang-gelang kecil berwarna putih, lentur dan dilempar-lempar semau-maunya ke udara sehingga mudah pecah. Pecah-pecahan itu berubah menjadi lautan kabut seperti di gunung. Warnanya gradasi putih, meruang dan menjadi laten di seluruh ruangan. Sesekali memang ditingkahi kilasan merah kekuningan berbaur dengan redup cahaya berkekuatan 10 Watt. Tak urung kilasan itu menghasilkan bunyi nyaring: cetus korek api di sebuah dini hari dengan gerimis kecil di luar. Di dalam, saya berbagi kegundahan dengannya. Masih memaksakan Peter Cincotti melantunkan Some Kind of Wonderful di telinganya, mencetuskan nyala korek api tepat di ujung bibirnya, menangkap wajah misteriusnya dalam balutan kabut asap yang  terbakar dari batang ke sekian belas.
All you have to do is touch my hand/To show me that you understand/And something happens to me/That's some kind of wonderful ….

***

Itu malamnya. Paginya, saya tak mau keluar kamar. Wajah Sonia sembab membujuk-bujuk saya. Dari sudut matanya menetas gelembung-gelembung kecil yang bening. Ketika saya tertunduk karena tak tahan oleh serbuan matanya yang iba, mata saya terantuk ujung gaunnya yang basah. Sudah berapa lama ia menangis? Seharusnya saya yang paling tahu setiap detail yang ia lakukan: saat ia menangis, tertawa atau kedua-duanya.
Saya tahu ketika ia mulai lelah menjelaskan, tarikan nafasnya selalu panjang-panjang. Ia tahu, ini bukan lagi saatnya menyimpan sendiri. Ia butuh melepaskannya dengan hembusan yang sama pula: pelan dan panjang. Saya juga berada di depannya ketika ia membunuh rasa jengahnya. Menyalakan batang demi batang di bibirnya yang basah tanpa saputan. Bertubi-tubi, ia menghirup dan menghempaskan. Sebuah aktifitas tarik-ulur  yang dilakukan dengan sempurna seperti reaksi normal yang ia tampilkan atas kegundahannya. Saya juga masih di sana ketika ia berkali-kali mencoba tertawa, memaksa saya mengingat kembali kejadian-kejadian kecil- yang menurut tuduhannya- selalu  saya giring ke arah romansa. Saya berusaha mampu mengimbanginya. Cukup lama untuk sebuah ukuran ketahanan yang saya bangun dari bahan tertentu yang mudah getas. Hanya sampai ketika tangannya menguraikan genggaman saya sambil memberikan satu predikat baru yang membuat laki-laki seperti saya dan semacamnya lebih mudah patah. 
Tapi saya tetap  merajuk. Bersikukuh malah! Saya katakan padanya selalu ada yang menyercah-bahkan yang lebih terang dari itu-nyala benderang di luar sana yang  akan membawanya pergi dari kamar ceruk suram serupa kuburan ini. Betapapun bukan bersama saya akhirnya, saya berharap itu semua tidak akan mendatangkan masalah bagi saya juga bagi Sonia.
Saya sempat runtuh sewaktu Sonia bilang bahwa percuma saja tinggal lebih lama di tempat ini, terutama di kamarnya. Dengan berbagai macam alasan yang menurutnya paling logis, ia terus-terusan mengusir saya dengan caranya yang persuasif seperti biasanya.
”Sejujurnya, aku tak pernah merasa kamu benar-benar pulang ke tempat ini.”
Sejujurnya, itu kalimat paling tertata yang diucapkan Sonia sejak kami mengambang semalaman di kamarnya. Saya seperti baru tersadar dari mimpi paling panjang yang bahkan tak pernah saya sadari kapan datangnya. Seingat saya, selepas dari kamar-kamar yang lain, saya selalu menemukan kedamaian di tempat ini. Ketukan pintu di setiap dini hari, tatapan geram Sonia yang tersembunyi di balik asap rokok, kantung mata hangat yang kutatap lama-lama ketika Sonia baru terbangun, atau pertanyaan-pertanyaan sederhana mengenai kejadian ganjil dalam mimpi di sepanjang tidur  saya. Sejauh itu Sonia selalu memberikan jawaban yang memuaskan. Tentu saja, sejauh semua itu masih terjadi dalam kamar ini. Tapi bukan  tentang rahasia-rahasia yang terjadi di belahan bumi lain. Ada kalanya satu sama lain berusaha saling jujur. Bukan rekor yang membanggakan saya kira, jika saya, terlebih Sonia merasa tahu bahwa saat-saat seperti itu  terkadang dibutuhkan. Toh, kami gagal mengatasi semua anggapan bahwa apapun yang terjadi pada kami dengan yang lain, nyatanya hanya semacam peryataan sopan yang kami kemas serapi mungkin. Sementara, di sisi lain selalu ada kebohongan-kebohongan kasar sebagai isinya. Jika itu yang terjadi, saya dan Sonia mulai berlomba menjadi siapa yang berhak menyandang  reputasi sebagai pencetus api kecemburuan paling besar di antara kami.
”Mungkin karena saya benar-benar belum menemukan rumah yang sebenar-benarnya,”saya menimpali Sonia dengan perasaan mendadak seolah-olah ingin memerbaiki semuanya.
”Berarti bukan aku tujuanmu, kan?”
”Saya selalu tertuju ke sini. Ke kamu. Ke tempatmu.”
”Ah, sudahlah. Kita tak boleh meminta terlalu banyak, kecuali ada kepastian. Kamu juga tahu, bersamamu, seperti yang sering kamu bilang, aku hanya menang kenangan. Seperti romantisme kanak-kanak?”
”Maaf,  kalau yang kamu maksud saya harus menemukan ukuran kedewasaan, saya tak bisa. Apalagi kalau ukuran itu adalah keberanian untuk merusakmu!” jawab saya dengan menambahkan tekanan tinggi pada kata ”merusak”.
Sonia terdiam. Saya sebenarnya menyesal dengan kata-kata saya tadi. Tapi apa boleh buat, hanya itu jawaban yang tersedia dalam hati dan mulut saya.
Sonia terbungkam. Hanya sejenak, sebab kemudian ia menerkam ke arah saya. Dan, saya, seperti biasanya, tak memiliki insting apapun untuk menghindar dari sergapannya. Tubuh lampai ini dibiarkan begitu saja serupa onggokan daging yang mangkrak ditinggalkan pemiliknya. Dicakar-cakar, ditampar-tampar, digoyang-goyangkan sehingga berguguranlah semua kegilaan  pada diri saya.
Itu bisa membuat Sonia kembali reda. Saya tidak mengambil kesempatan ini untuk berlaku romantis dengan menggiringnya ke wilayah romansa seperti dulu-dulu. Saya cuma katakan padanya bahwa saya benar-benar akan pergi setelah gerimis di luar reda. Berteduh, itu bahasa yang saya gunakan berikutnya. Dengan sedikit kesia-siaan, saya diijinkannya tetap tinggal. Setelah itu, Sonia dan saya menghapiskan waktu dengan diam. Diam secara lahiriah, sementara di benak saya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tak menentu yang tak akan pernah lagi keluar dari mulut saya secara nyata.

***

Malamnya, hampir setengah  jam saya hanya mendengar gemericik air. Bukan dari gerimis di luar, tapi dari kamar mandi di dalam kamar ini. Setelah pandangan saya terantuk ujung gaunnya yang basah tadi pagi. Setelah satu dua percakapan yang hanya bisa terjelaskan oleh kami. Setelah goncangan-goncangan itu-yang dilampiaskan Sonia pada tubuh dan jiwa saya. Setelah janji saya untuk pergi selepas gerimis reda di luar. Setelah Sonia berani menjamin akan menemukan hidup yang sebenar-benarnya setelah  semua ini. Setelah saya tahu secara diam-diam sebuah rahasia yang tak pernah diungkapkan oleh siapapun, kecuali dengan menatap gelagat seorang ayah yang menyimpan keinginan yang sama seperti saya. Setelah semua itu,  saya  hanya menerima rupa-rupa amarah darinya yang tak pernah saya sentuh. Ah, andai saya punya keberanian semacam ayah. Tentu dengan sedikit kesadaran, sedikit buaian, mungkin saja saya akan bisa mencari waktu yang tepat untuk singgah ke kamar ini. Tapi, bukankah saya selalu pulang ke ceruk yang curam dan suram seperti ini?
Ingat, bersama ketukan pintu di dini hari selepas para pelanggan pulang dari kamar ini, saya menjadi laki-laki terakhir yang paling sopan memperlakukan Sonia!
Kalaupun Sonia bisa melakukannya di tempat lain bersama ayah, apa bedanya dengan para hidung belang yang selalu membayar lebih di kamar ini. Ah, apakah ayah juga melakukannya di kamar ini. Bagaimana cara ayah melakukannya? Apa seperti saya yang tiba-tiba dihantam haru biru acap kali menatap wajah kelelahan Sonia teronggok di sudut kamar?
Gemericik air itu lama-lama mengganggu saya. Padahal, sebelum berangkat saya hanya ingin mendengar suara Sonia. Saya mencari-cari dengan nanar ke seluruh kamar. Tak ada apa-apa, bahkan barang-barang sederhana yang pernah menghuni kamar ini. Saya juga tak mendengar Peter Cincotti melantunkan Some Kinds of  Wonderful yang biasa saya paksakan nyelip di telinga Sonia lewat iPod pemberian ayah kepadanya. Saya tahu, Sonia tak pernah menyukai lagu itu. Mungkin karena isinya tak pernah menyentuh hubungan kami berdua.
Saya ingat janji saya untuk pergi. Sambil menahan sisa pening di kepala, saya bangkit menuju kamar mandi. Tak ada apa-apa di Sana, selain kran yang dibiarkan mengucur, sikat gigi, sabun, odol dan handuk yang sepi, diam di tempatnya masing-masing. Saya sempat berharap bahwa Sonia akan meninggalkan pesan singkat dengan goresan lipstik pada cermin buram yang terpancang di dinding kamar mandi. Mungkin Sonia menitipkan memo kecil pada sobekan bungkus rokok, nota pembelian pil antibiotik dari apotik, atau pada sobekan kertas kalender kadaluarsa. Tapi tidak. Saya tidak menemukan apa-apa, bahkan hingga saya memeriksa setiap pesan yang masuk dalam HP saya. Saya sadar akhirnya, tak selamanya perpisahan akan menyertakan pesan kecil yang akan memudahkan pelakunya melakukan perjalanan ke tempat kenangan.
Mungkin ada satu petunjuk yang bisa membantu saya menemukan tempatnya. Tentu, saya akan menemukannya. Lewat tangis tertahan seorang ibu yang tak pernah mengandung anaknya. Lewat seorang ayah yang akan mengikat pertalian suci bersama Sonia dengan satu alasan pokok: mendapatkan penerus keluarga yang bukan seperti saya. Saya tahu, tempatnya adalah di depan para hadirin, saudara-saudara, para undangan sekalian.  Yang pasti, itu tak akan pernah terjadi di depan ibu apalagi di depan saya. Tapi sejenak saya ragu: jika saya tak berada di Sana, jika saya masih di kamar Sonia, bisakah saya menatap wajah ayah meringis kesakitan dengan tiga lubang peluru di keningnya? Satu untuk saya, satu untuk ibu, satu untuk Sonia.
Gemetar tangan saya ragu membuka pintu. Tapi tubuh dan perasaan saya lebih cepat menuju kesana. Ke suatu tempat dimana Sonia akan menjadi ibu kedua saya yang kehilangan suaminya.
Mataram, 23-09- 2007

(cerpen tjak s parlan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar