Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juli 2011

Lumba-Lumba dan Saya


Kepalanya ditumbuhi samun liar yang mengganggu pandangan mata. Setiap kali  jemari kurusnya yang lebih kuning dibanding bagian tubuh lainnya  itu menggapai kepalanya, remah-remah salju luruh. Saya tahu, ia bukan sekadar menggapai, tapi menggaruk. Saya juga tahu,  jauh di ruang sana, di balik  kepalanya yang teguh ditumbuhi samun liar itu, ada ribuan ngengat, ulat bulu,  bahkan ular cobra yang terus mengganggu dan ia ingin membantainya dengan cara yang kejam lebih dari menggaruk.

***

ilustrasi: tjak, montase foto net & dok. pribadi

Tidak besok atau lusa. Sebab hari ini cuaca gerah dan kurang pantas membicarakan warna langit. Sementara, ia bersikeras dengan keinginannya. Caranya yang super halus, tak kentara tapi persuasif dan memiliki peluang untuk memikat siapa saja itu, menghancurkan keinginan saya untuk menyinggung cuaca.
Sewaktu saya  menghindari tatap matanya, saya masih bertahan memuja ungu elektrik yang membungkus kepalanya. Sempat malah, saya menghitung jumlah tai lalat di belakang telinganya lewat rambutnya yang tersibak oleh  dua ujung yang bertemu itu. Hari itu ia menghias rambutnya dengan slayer warna ungu. Di detik ini saya mulai meraba keinginannya.
Saya meraba keinginannya dan benar. Benar, bahwa hari ini, minggu terasa cerah sekaligus gerah. Ia melolos soft drink inovasi terbaru dengan huruf-huruf warna pink dari daypack. Membuka tutupnya sekali tekan, menghirupnya dengan pipet warna putih, menyodorkan padaku setelah sehirup dua yang mendalam dan aku menghirup sedalam ia. Tak ada aroma lipstik. Lipstik  baginya adalah sekali waktu. Mungkin di sebuah pesta malam dengan gaun malam merah marun. Pesta yang selalu menjauhkan saya dari pesta itu sendiri dan ia.
Dan ia, hari ini akan menjauhkan saya dari minggu yang tenang dengan kartun sembarangan yang saya sewa setiap sabtu sore. Lihat saja, ia mulai bersiap-siap menuju kubangan air, siap menari lumba-lumba.

***

Kau tahu,  itu hanya setengah jam yang lalu. Saat ini saya dan ia tiba di setengah jam berikutnya. Waktu yang mengantarkan saya kerap kehilangan tiga buah tahi lalat di belakang telinganya. Setengah jam yang merubah slayer ungu elektrik itu menjadi bandana di kepala saya. Setengah jam berikutnya yang membuat ia gelisah dalam antrean di depan pintu kamar mandi. Waktu yang membuat saya menatap senyum malu-malunya memamerkan kostum sempit untuk berendam, berderak-derak seperti lumba-lumba yang disorak. ”Tak apalah, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Jadi, berenanglah biar sehat,” begitulah kalimat yang pernah kudengar, meluncur tanpa beban dari celah bibir bagusnya. Lalu, byur! Kecipak air itu muncrat. Sebagian kecilnya mampir di wajah. Ada setitik dua dingin di wajah saya. Tiba-tiba ia terasa jauh. Saya mulai merindukan rumah dan latihan yoga di halaman belakang selepas menonton kartun lucu.
Tapi tidak kali ini. Tidak besok atau lusa. Besok adalah senin yang gaduh dengan pagi-pagi bersama ibu-ibu, tante, mbak, om, sahut menyahut memamerkan cerita weekend seperti para peneriak di lapangan sirkus jaman baheula. Lusa, lusa adalah kelanjutan dari senin yang mekanis hingga jumat yang terpenggal oleh aroma mistis. Kali ini, kali ini saya harus merelakan buku panduan yoga dan bentuk-bentuk serba elastis bergerak penuh imajiner di layar 14 inci.
Aha, bukankah di tempat ini, kali ini, saya juga menemukan gerakan-gerakan imajiner itu? Tanpa buku panduan malah. Tanpa uang sewa malah.

***

Saya membuka mata. Ia sempat mencandai saya dengan percikan air kolam. (Tentang yang satu ini-air kolam, khusus di tempat ini- ia sering mempromosikan: tanpa kaporit. Tapi, masih di tempat yang sama, saya terbangun oleh aroma itu. Aroma kaporit yang menjauhkan saya dari ingatan tentang yoga: gerakan-gerakan yang belum genap saya hafal). Saya melihatnya tersenyum. Tuhan, kuatkan saya. Kuatkan saya dari godaan lumba-lumba yang sebenarya tidak pernah punya niatan untuk menggoda ini.)   
Benar. Pertama-tama aku melihat ia. Ia timbul tenggelam. Lalu gaya dada, gaya punggung, gaya kuda nil, gaya putri duyung, gaya katak, gaya bebek, gaya timbul tenggelam, semakin tak karuan gayanya, menari-nari, meloncat-loncat, menyembur, menghirup, melepaskan. Ia tidak sendirian akhirnya. Ada satu, dua, tiga, empat, lima, sepuluh dan seterusnya menjadi ”banyak ia”.  Sementara di sepanjang bibir garis empat persegi panjang itu, puluhan mata berbinar-binar. Tempik sorak bergemuruh bercampur teriakan-teriakan dengan aksen kontemporer. Ayo, Kamu Bisa! Pinggulnya, Dong, Pinggulnya. Goyang Dada! Menari, Menari! Loncat! Terbang! Goyang Trio Macan! Pantatnya Mann...nna!
Riuh itu terus berlanjut. Sambung menyambung menjadi meriah. Dalam sekian jenak tangan saya bergerak. Turut memeriahkan riuh  seperti menonton tarian lumba-lumba.

***

Saya merasai telapak tangannya, basah-basah mengusap punggung tangan saya. ”Saya sudah selesai, ”katanya. Saya mengusap mata saya, terus menatapnya dengan linglung. Waktu saya melemparkan  pandangan ke sekeliling, tinggal satu dua yang ada di sana. Satu dua anak kecil sedang dilatih renang ala kadarnya oleh mama dan papanya. Sisanya beberapa turis setengah telanjang menggelar diri di bangku-bangku kayu. Sisanya lagi adalah kami: aku dan ia. Ia menggoyang-goyangkan tubuh saya, meyakinkan dirinya akan kesadaran saya.
”Saya sempat bermimpi tadi.”
”Dasar pemimpi!”
”Dasar perenang. Lumba-lumba. Penyuka air. Putri Duyung...”
”Biarin! Ngomong-ngomong, mimpi apaan tadi?”
“Lumba-lumba.”
“O, ya. Seperti apa?”
“Mirip-mirip kamu. Seperti miniatur-miniatur surfing di kamarku, kamu pernah lihat.”
Dolpin. Masih kamu simpan?”
”Saya menghargai kenangan.”
”Huweeek!”
Waktu ia mencandai saya dengan tiruan orang muntah itu, tangannya cekatan melolos sisir  kecil dari daypack-nya. Lalu ia mulai menggaruk. Aku mencium harum sampo dengan baluran tipis kaporit dari rambutnya. Tiba-tiba saya ingin menekuninya, setiap detail geraknya. Saya melihat  kepalanya ditumbuhi samun liar yang mengganggu pandangan mata. Setiap kali  jemari kurusnya yang lebih kuning dibanding bagian tubuh lainnya  itu menggapai kepalanya, remah-remah salju luruh. Saya tahu, ia bukan sekadar menggapai, tapi menggaruk. Saya juga tahu,  jauh di ruang sana, dibalik  kepalanya yang teguh ditumbuhi samun liar itu, ada ribuan ngengat, ulat bulu,  bahkan ular cobra yang terus mengganggu dan ia ingin membantainya dengan cara yang kejam lebih dari menggaruk.
Saya benar-benar tahu, dulu-dulu ia tak pernah seperti ini. Ia hanya berbuka kepala sekali waktu saja. Bentuk wadagnya begitu terjaga oleh kesopanan.Belakangan ketika ia berniat membuka  bungkus kepalanya, alasanya jadi macam-macam. Gerah. Ketombe. Lembab. Rambut pecah-pecah. Sudah muhriman. Bla, bla, bla. Sejak itu saya menjadi sok tahu: ia sebenarnya sedang tidak bahagia. Kau tahu sendiri, belakangan ia selalu  mengisi waktu liburnya dengan berenang. Untuk yang satu ini saya hanya bisa menebak: 1) ia pernah jatuh cinta pada lumba-lumba dan ingin menirukan gayanya, 2) di kepalanya berkecamuk ribuan getir kenangan, dan berendam sementara ini dirasa cukup efektif  untuk membunuhnya, 3) mantan pacarnya yang mantan atlet renang  itu kecanduan narkoba gara-gara ditelantarkan oleh KONI pusat, ia kecewa dan memilih berpisah.
”Kamu tahu, nggak?” suaranya membunuh lamunanku.
”Iya. Kenapa?”
”Ini terakhir kalinya aku begini.”
”Tidak olahraga? Saya tidak percaya.”
”Olahraga selalu baik. Ya, terserahlah. Tapi yang jelas, besok aku mulai mengajar di sebuah yayasan. Aku harus memakai ini. Aku rindu dengan pakaianku yang dulu, ” ujarnya dengan mimik serius.
”Bukan melulu karena itu, kan?”
”Sudah kupikirkan. Aku akan mulai lagi. Pelan-pelan. Tapi aku akan serius  kali ini.”
Seketika  saya diam. Selebihnya, saya hanya menggaruk-garuk kepala. []

 Mataram, 11 Desember  2006
(Cerpen Tjak S Parlan)

Kamis, 21 Juli 2011

Viana, Malam Menggerogoti Tubuhku


Malam menggerogoti tubuhku, Viana. Lihat saja, bulan yang hanya sejengkal di atas pelataran itu, kenapakah harus kubiarkan? Apalagi yang terus kudambakan? Setetah senja takluk oleh malam. Setelah malam melabrak lampu-lampu di jalan. 
Apalagi yang harus kuharapkan?

 
ilustrasi: tjak, montase foto (net & dok. pribadi)


















Senja boleh lindap, Viana. Dan malam,  labraklah lampu-lampu di jalan yang pernah dibangun oleh proyek kenyang rupiah dari dana APBD itu. Aku sedang malas untuk peduli. Tapi bulan. Ah, bagaimana malam akan melabrak bulan? Justeru karena alasan yang seperti ini, aku mulai tak peduli dengan lampu-lampu jalanan.
Bulan, seperti katamu, kecuali ia mengutuki kita dengan menenggelamkan dirinya ke dasar bumi. Kecuali langit tengah sesak oleh gegap gempita mendung. Kecuali ia jatuh ke dasar kolam lalu padam. Kecuali ia tiba-tiba berbentuk kotak-kotak dan tersendat-sendat menggelinding menuju sempurnanya purnama. Kita mampus, Viana!
“Full moon blues!”
“Ya, aku juga suka lagu itu.”
Tapi tak sepenuhnya kata itu kau ucapkan. Kau suka lagu itu. Ya, bahwa kau juga jatuh cinta pada malam, aku bisa pahami. Pemahamanku berdasarkan satu alasan: kau punya selera yang mudah kurasakan dengan cara yang lain.
Tapi kita tak punya pantai, Viana. Itu jugalah yang membuatmu marah. Permasalahannya bukan karena benar-benar tak ada pantai. Bukan. Karena kita tahu, bahwa kota tempat tinggal kita saat itu, senyatanya dikepung oleh lautan luas. Tentu, secara logika tiap laut pastilah punya pantai. Kita pernah menyisiri gigir pantai bukan hanya pada senja dengan matahari berwarna oranye saja, tetapi kita juga merasa sangat kehilangan jika melewatkan purnama. Bayangkan,  full moon blues, Viana!
Barangkali  karena akhir pekan  kita di beberapa kali purnama selalu terganggu. Tak pernah ada privacy, bahkan di pantai yang sesenyap kamar mandi. Nyaris tak ada bedanya, ketika kita berusaha bertahan lebih lama menikmati malam di bawah bulan. Maafkan ketidak mampuanku memberimu sebuah tempat yang paling sederhana pun di kota ini. Hingga akhirnya, seperti pilihan kita (kukira), kita seolah merasa lebih enjoy di bawah langit, meringkuk di pulau pasir.
Tapi dasar sial, Viana! Selalu saja ada yang berubah menjadi preman-preman pantai  yang gayanya melebihi polisi pantai di serial bay wacth waktu itu.  Padahal kita selalu menyempatkan barang sebotol dua cocacola yang mereka tawarkan dengan tarif dolar. Dan kita, adalah sepasang turis domestik yang terperangkap dalam sebuah pulau eksotik dengan segala kesan: kita berduit, berada, royal dan lain-lain. Maka hancurlah malam-malam kita. Lalu kita memilih sebuah pantai dalam dunia benak kita.

***

Malam menggerogoti tubuhku, Viana. Lihat saja. Bulan yang hanya sejengkal di atas pelataran itu, kenapakah harus kubiarkan? Apalagi yang mesti kudambakan? Setelah senja berkecil hati  karena malam. Setelah malam melabrak lampu-lampu di jalan. Apalagi yang akan kuharapkan?
Aku menyukai malam. Kau tak sekadar latah. Aku tahu,  sudah  seribu sekian malam kau lalui  bersamaku. Di atas balkon. Di atap rumah. Di pelataran. Di taman kota. Di pantai-pantai yang bertebaran dolar. Bulan yang hanya sejengkal di atas kita itu, kenapakah harus kita lewatkan?
Duh, Viana. Malam benar-benar telah menggerogoti tubuhku. Sudah seribu sekian kuhitung  bintang jatuh. Sudah seribu sekian kugumamkan permintaan. Doa yang bertubi-tubi. Harapan yang tumpang tindih. Begitu cemaskah aku?

***

Insomnia. Ah, darimana pula kita mengantungi kata itu? Bukan itu sebenarnya yang kita puja. Aku tahu, jika kau bisa kau pun akan membencinya. Tulang-tulang kita serasa patah. Ceruk mata kita kian dalam. Benak-benak kita kian gelisah. Kita begitu mudah jatuh,  dan kerap perasaan kehilangan menyergap kita  pada malam-malam ketika kota kecil ini begitu lama  ditinggalkan cahaya. Beruntung, masih ada bulan. Kita masih bisa merasai remang sinarnya. Kita masih bisa bersyukur  ketika didera rutinitas pemadaman listrik (maafkan, di kotaku listrik menyala 24 jam, tetapi pernah harus antre mendapat giliran, harus hemat, betapapun semakin banyak orang yang tak bisa menabung). Tetapi kita mampu menabung kenangan, bukan? Seingatku kita juga pernah sama-sama ditenggelamkan oleh  euforia para penyandang sakit asmara. Sakit, Viana!
Dan kita tak pernah menyerah.
Ya, aku tak pernah menyerah, Viana. Betapapun malam begitu larut menggerogoti tubuhku. Setelah seribu sekian malam kau lalui bersamaku?

***

Maka Viana, sejak malam-malam itu aku terus mengingat percakapan ini:
Viana  : “Senja itu hanya matahari menjelang bunuh diri!”
Aku  : “Bukan, Viana.  Itu dakwaan yang sungguh keji dan penuh tendensi.”
Viana :“Lihat saja jika kau tak percaya. Orang-orang hanya lalu lalang. Atau bersembunyi di balik bilik berjeruji gengsi. Berapa dolar mereka tebarkan? Hanya untuk menghabiskan angin pantai, misalnya. Apa mereka juga benar-benar mengagumi matahari yang berwarna oranye?
Aku : “ Mereka pasti banyak melewatkan yang lainnya.”
Viana : “Misalnya?”
Aku : “Senja, dan tentu saja full moon blues?”
Viana : “Tidak praktis begitu. Itu hanya masalah pilihan berdasarkan kemampuan.”
Aku : “Ah, kau mulai bicara standar finansial.”
Viana : “Bukan. Bagi mereka yang punya uang makan-makan dan long time di kamar berbintang. Bagi mereka yang tak punya uang, minumnya di warung kopi, dan bermalam di emper balkon kost-kostan murahan.
Aku:  “Apa kau membenci kota ini?”
Viana: “Untung masih ada bulan. Aku tak punya alasan untuk terus-terusan membencinya.”
Aku:“Kau (maafkan aku) seperti turis kesasar. Hanya memuja, mengagumi dan menjadikan pulau ini seperti museum. Hanya mampir, lalu pergi dengan berbagai macam kritikan.”  
Viana: “Aku punya semangat eksotik. Apa itu salah? Bukankah kita adalah sedikit dari bagian yang tersisa?  Setelah tubuh dan pikiran kita digerogoti malam?”
Aku: “Oke. Aku bisa pahami itu. Setidaknya sampai kau benar-benar pergi dan membawa riset kecilmu tentang kotaku ini. Berapa kau dibayar untuk itu?”
Kau diam. Wajahmu memerah tomat. Mata sempitmu merunduk pada butiran pasir yang berkerumun di kaki. Kaki coklatmu yang kian coklat oleh matahari di tanah yang pernah agraris ini.

***

Malam terus menggerogoti tubuhku, Viana. Lihat saja. Bulan yang hanya sejengkal di atas pelataran itu, kenapakah harus kubiarkan? Apalagi yang mesti kudambakan? Setelah senja ditakut-takuti oleh malam. Setelah malam melabrak lampu-lampu jalanan. Apalagi yang terus kuharapkan?
Percayalah. Aku tak berlebihan semangat eksotik sepertimu. Hanya merasa apa yang kau katakan - dalam percakapan terkhir sebelum kau pergi itu - ada benarnya.
Tak pernah sekalipun aku melupakan, bahwa kau pernah mempertautkanku dengan senja, dengan bulan  yang tiba-tiba berbentuk kotak-kotak dan tersendat-sendat menggelinding menuju sempurnanya purnama.  Selama itukah kita telah bersabar menunggu?
Ah, Viana. Malam benar-benar telah menggerogoti tubuhku. Sudah beribu sekian kuhitung  bintang jatuh. Sudah beribu sekian kugumamkan permintaan. Doa yang bertubi-tubi. Harapan yang tumpang tindih tentang kecemasan-kecemasanku terhadapmu, terhadap kota dimana aku terus tinggal ini.

(cerpen Tjak S Parlan)

Rabu, 20 Juli 2011

Di Kamar Sonia

ilustrasi: net
 Saya memerhatikan caranya mengapit  rokok rendah tar. Kedua jari panjangnya meruncing ke ujung menjadi bentuk yang cantik. Tanpa cat, kukunya hadir dengan  warna putih bersemu kuning: warna yang  selalu pantas bagi kebanyakan perokok. Gaya mengulumnya serasi dengan bibir bagusnya yang basah, seolah dua lengkung yang indah itu terbuat dari bahan yang tak mudah terbakar. Lihat saja, nyaris tanpa lipstik, nyaris tanpa kerak-kerak pecah dari sisa nikotin yang biasanya melekatkan warna suram yang mengering di ujung bibir siapa saja. Saputan warna yang tak mencolok  itu, ketika ikut merapat dengan gerakan mengulum, adalah detail yang mau tak mau musti saya perhatikan sejak berjam-jam lalu. Gerak bibirnya saat menghirup lalu melepaskannya dengan sedikit dorongan udara yang keluar melewati bibir, menciptakan asap yang panjang-panjang. Kadang ia membuat lingkaran sepatutnya untuk menambah kombinasi berbentuk gelembung-gelembung kecil. Sebenarnya mirip lingkaran-lingkaran mini dengan gerakan melayang-layang yang susul menyusul. Atau-jika saya larut terus menerus- lingkaran-lingkaran itu akan menyerupai gelang-gelang kecil berwarna putih, lentur dan dilempar-lempar semau-maunya ke udara sehingga mudah pecah. Pecah-pecahan itu berubah menjadi lautan kabut seperti di gunung. Warnanya gradasi putih, meruang dan menjadi laten di seluruh ruangan. Sesekali memang ditingkahi kilasan merah kekuningan berbaur dengan redup cahaya berkekuatan 10 Watt. Tak urung kilasan itu menghasilkan bunyi nyaring: cetus korek api di sebuah dini hari dengan gerimis kecil di luar. Di dalam, saya berbagi kegundahan dengannya. Masih memaksakan Peter Cincotti melantunkan Some Kind of Wonderful di telinganya, mencetuskan nyala korek api tepat di ujung bibirnya, menangkap wajah misteriusnya dalam balutan kabut asap yang  terbakar dari batang ke sekian belas.
All you have to do is touch my hand/To show me that you understand/And something happens to me/That's some kind of wonderful ….

***

Itu malamnya. Paginya, saya tak mau keluar kamar. Wajah Sonia sembab membujuk-bujuk saya. Dari sudut matanya menetas gelembung-gelembung kecil yang bening. Ketika saya tertunduk karena tak tahan oleh serbuan matanya yang iba, mata saya terantuk ujung gaunnya yang basah. Sudah berapa lama ia menangis? Seharusnya saya yang paling tahu setiap detail yang ia lakukan: saat ia menangis, tertawa atau kedua-duanya.
Saya tahu ketika ia mulai lelah menjelaskan, tarikan nafasnya selalu panjang-panjang. Ia tahu, ini bukan lagi saatnya menyimpan sendiri. Ia butuh melepaskannya dengan hembusan yang sama pula: pelan dan panjang. Saya juga berada di depannya ketika ia membunuh rasa jengahnya. Menyalakan batang demi batang di bibirnya yang basah tanpa saputan. Bertubi-tubi, ia menghirup dan menghempaskan. Sebuah aktifitas tarik-ulur  yang dilakukan dengan sempurna seperti reaksi normal yang ia tampilkan atas kegundahannya. Saya juga masih di sana ketika ia berkali-kali mencoba tertawa, memaksa saya mengingat kembali kejadian-kejadian kecil- yang menurut tuduhannya- selalu  saya giring ke arah romansa. Saya berusaha mampu mengimbanginya. Cukup lama untuk sebuah ukuran ketahanan yang saya bangun dari bahan tertentu yang mudah getas. Hanya sampai ketika tangannya menguraikan genggaman saya sambil memberikan satu predikat baru yang membuat laki-laki seperti saya dan semacamnya lebih mudah patah. 
Tapi saya tetap  merajuk. Bersikukuh malah! Saya katakan padanya selalu ada yang menyercah-bahkan yang lebih terang dari itu-nyala benderang di luar sana yang  akan membawanya pergi dari kamar ceruk suram serupa kuburan ini. Betapapun bukan bersama saya akhirnya, saya berharap itu semua tidak akan mendatangkan masalah bagi saya juga bagi Sonia.
Saya sempat runtuh sewaktu Sonia bilang bahwa percuma saja tinggal lebih lama di tempat ini, terutama di kamarnya. Dengan berbagai macam alasan yang menurutnya paling logis, ia terus-terusan mengusir saya dengan caranya yang persuasif seperti biasanya.
”Sejujurnya, aku tak pernah merasa kamu benar-benar pulang ke tempat ini.”
Sejujurnya, itu kalimat paling tertata yang diucapkan Sonia sejak kami mengambang semalaman di kamarnya. Saya seperti baru tersadar dari mimpi paling panjang yang bahkan tak pernah saya sadari kapan datangnya. Seingat saya, selepas dari kamar-kamar yang lain, saya selalu menemukan kedamaian di tempat ini. Ketukan pintu di setiap dini hari, tatapan geram Sonia yang tersembunyi di balik asap rokok, kantung mata hangat yang kutatap lama-lama ketika Sonia baru terbangun, atau pertanyaan-pertanyaan sederhana mengenai kejadian ganjil dalam mimpi di sepanjang tidur  saya. Sejauh itu Sonia selalu memberikan jawaban yang memuaskan. Tentu saja, sejauh semua itu masih terjadi dalam kamar ini. Tapi bukan  tentang rahasia-rahasia yang terjadi di belahan bumi lain. Ada kalanya satu sama lain berusaha saling jujur. Bukan rekor yang membanggakan saya kira, jika saya, terlebih Sonia merasa tahu bahwa saat-saat seperti itu  terkadang dibutuhkan. Toh, kami gagal mengatasi semua anggapan bahwa apapun yang terjadi pada kami dengan yang lain, nyatanya hanya semacam peryataan sopan yang kami kemas serapi mungkin. Sementara, di sisi lain selalu ada kebohongan-kebohongan kasar sebagai isinya. Jika itu yang terjadi, saya dan Sonia mulai berlomba menjadi siapa yang berhak menyandang  reputasi sebagai pencetus api kecemburuan paling besar di antara kami.
”Mungkin karena saya benar-benar belum menemukan rumah yang sebenar-benarnya,”saya menimpali Sonia dengan perasaan mendadak seolah-olah ingin memerbaiki semuanya.
”Berarti bukan aku tujuanmu, kan?”
”Saya selalu tertuju ke sini. Ke kamu. Ke tempatmu.”
”Ah, sudahlah. Kita tak boleh meminta terlalu banyak, kecuali ada kepastian. Kamu juga tahu, bersamamu, seperti yang sering kamu bilang, aku hanya menang kenangan. Seperti romantisme kanak-kanak?”
”Maaf,  kalau yang kamu maksud saya harus menemukan ukuran kedewasaan, saya tak bisa. Apalagi kalau ukuran itu adalah keberanian untuk merusakmu!” jawab saya dengan menambahkan tekanan tinggi pada kata ”merusak”.
Sonia terdiam. Saya sebenarnya menyesal dengan kata-kata saya tadi. Tapi apa boleh buat, hanya itu jawaban yang tersedia dalam hati dan mulut saya.
Sonia terbungkam. Hanya sejenak, sebab kemudian ia menerkam ke arah saya. Dan, saya, seperti biasanya, tak memiliki insting apapun untuk menghindar dari sergapannya. Tubuh lampai ini dibiarkan begitu saja serupa onggokan daging yang mangkrak ditinggalkan pemiliknya. Dicakar-cakar, ditampar-tampar, digoyang-goyangkan sehingga berguguranlah semua kegilaan  pada diri saya.
Itu bisa membuat Sonia kembali reda. Saya tidak mengambil kesempatan ini untuk berlaku romantis dengan menggiringnya ke wilayah romansa seperti dulu-dulu. Saya cuma katakan padanya bahwa saya benar-benar akan pergi setelah gerimis di luar reda. Berteduh, itu bahasa yang saya gunakan berikutnya. Dengan sedikit kesia-siaan, saya diijinkannya tetap tinggal. Setelah itu, Sonia dan saya menghapiskan waktu dengan diam. Diam secara lahiriah, sementara di benak saya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tak menentu yang tak akan pernah lagi keluar dari mulut saya secara nyata.

***

Malamnya, hampir setengah  jam saya hanya mendengar gemericik air. Bukan dari gerimis di luar, tapi dari kamar mandi di dalam kamar ini. Setelah pandangan saya terantuk ujung gaunnya yang basah tadi pagi. Setelah satu dua percakapan yang hanya bisa terjelaskan oleh kami. Setelah goncangan-goncangan itu-yang dilampiaskan Sonia pada tubuh dan jiwa saya. Setelah janji saya untuk pergi selepas gerimis reda di luar. Setelah Sonia berani menjamin akan menemukan hidup yang sebenar-benarnya setelah  semua ini. Setelah saya tahu secara diam-diam sebuah rahasia yang tak pernah diungkapkan oleh siapapun, kecuali dengan menatap gelagat seorang ayah yang menyimpan keinginan yang sama seperti saya. Setelah semua itu,  saya  hanya menerima rupa-rupa amarah darinya yang tak pernah saya sentuh. Ah, andai saya punya keberanian semacam ayah. Tentu dengan sedikit kesadaran, sedikit buaian, mungkin saja saya akan bisa mencari waktu yang tepat untuk singgah ke kamar ini. Tapi, bukankah saya selalu pulang ke ceruk yang curam dan suram seperti ini?
Ingat, bersama ketukan pintu di dini hari selepas para pelanggan pulang dari kamar ini, saya menjadi laki-laki terakhir yang paling sopan memperlakukan Sonia!
Kalaupun Sonia bisa melakukannya di tempat lain bersama ayah, apa bedanya dengan para hidung belang yang selalu membayar lebih di kamar ini. Ah, apakah ayah juga melakukannya di kamar ini. Bagaimana cara ayah melakukannya? Apa seperti saya yang tiba-tiba dihantam haru biru acap kali menatap wajah kelelahan Sonia teronggok di sudut kamar?
Gemericik air itu lama-lama mengganggu saya. Padahal, sebelum berangkat saya hanya ingin mendengar suara Sonia. Saya mencari-cari dengan nanar ke seluruh kamar. Tak ada apa-apa, bahkan barang-barang sederhana yang pernah menghuni kamar ini. Saya juga tak mendengar Peter Cincotti melantunkan Some Kinds of  Wonderful yang biasa saya paksakan nyelip di telinga Sonia lewat iPod pemberian ayah kepadanya. Saya tahu, Sonia tak pernah menyukai lagu itu. Mungkin karena isinya tak pernah menyentuh hubungan kami berdua.
Saya ingat janji saya untuk pergi. Sambil menahan sisa pening di kepala, saya bangkit menuju kamar mandi. Tak ada apa-apa di Sana, selain kran yang dibiarkan mengucur, sikat gigi, sabun, odol dan handuk yang sepi, diam di tempatnya masing-masing. Saya sempat berharap bahwa Sonia akan meninggalkan pesan singkat dengan goresan lipstik pada cermin buram yang terpancang di dinding kamar mandi. Mungkin Sonia menitipkan memo kecil pada sobekan bungkus rokok, nota pembelian pil antibiotik dari apotik, atau pada sobekan kertas kalender kadaluarsa. Tapi tidak. Saya tidak menemukan apa-apa, bahkan hingga saya memeriksa setiap pesan yang masuk dalam HP saya. Saya sadar akhirnya, tak selamanya perpisahan akan menyertakan pesan kecil yang akan memudahkan pelakunya melakukan perjalanan ke tempat kenangan.
Mungkin ada satu petunjuk yang bisa membantu saya menemukan tempatnya. Tentu, saya akan menemukannya. Lewat tangis tertahan seorang ibu yang tak pernah mengandung anaknya. Lewat seorang ayah yang akan mengikat pertalian suci bersama Sonia dengan satu alasan pokok: mendapatkan penerus keluarga yang bukan seperti saya. Saya tahu, tempatnya adalah di depan para hadirin, saudara-saudara, para undangan sekalian.  Yang pasti, itu tak akan pernah terjadi di depan ibu apalagi di depan saya. Tapi sejenak saya ragu: jika saya tak berada di Sana, jika saya masih di kamar Sonia, bisakah saya menatap wajah ayah meringis kesakitan dengan tiga lubang peluru di keningnya? Satu untuk saya, satu untuk ibu, satu untuk Sonia.
Gemetar tangan saya ragu membuka pintu. Tapi tubuh dan perasaan saya lebih cepat menuju kesana. Ke suatu tempat dimana Sonia akan menjadi ibu kedua saya yang kehilangan suaminya.
Mataram, 23-09- 2007

(cerpen tjak s parlan)