Malam menggerogoti tubuhku, Viana. Lihat saja, bulan yang hanya sejengkal di atas pelataran itu, kenapakah harus kubiarkan? Apalagi yang terus kudambakan? Setetah senja takluk oleh malam. Setelah malam melabrak lampu-lampu di jalan.
Apalagi yang harus kuharapkan?
![]() |
| ilustrasi: tjak, montase foto (net & dok. pribadi) |
Senja boleh lindap, Viana. Dan malam, labraklah lampu-lampu di jalan yang pernah dibangun oleh proyek kenyang rupiah dari dana APBD itu. Aku sedang malas untuk peduli. Tapi bulan. Ah, bagaimana malam akan melabrak bulan? Justeru karena alasan yang seperti ini, aku mulai tak peduli dengan lampu-lampu jalanan.
Bulan, seperti katamu, kecuali ia mengutuki kita dengan menenggelamkan dirinya ke dasar bumi. Kecuali langit tengah sesak oleh gegap gempita mendung. Kecuali ia jatuh ke dasar kolam lalu padam. Kecuali ia tiba-tiba berbentuk kotak-kotak dan tersendat-sendat menggelinding menuju sempurnanya purnama. Kita mampus, Viana!
“Full moon blues!”
“Ya, aku juga suka lagu itu.”
Tapi tak sepenuhnya kata itu kau ucapkan. Kau suka lagu itu. Ya, bahwa kau juga jatuh cinta pada malam, aku bisa pahami. Pemahamanku berdasarkan satu alasan: kau punya selera yang mudah kurasakan dengan cara yang lain.
Tapi kita tak punya pantai, Viana. Itu jugalah yang membuatmu marah. Permasalahannya bukan karena benar-benar tak ada pantai. Bukan. Karena kita tahu, bahwa kota tempat tinggal kita saat itu, senyatanya dikepung oleh lautan luas. Tentu, secara logika tiap laut pastilah punya pantai. Kita pernah menyisiri gigir pantai bukan hanya pada senja dengan matahari berwarna oranye saja, tetapi kita juga merasa sangat kehilangan jika melewatkan purnama. Bayangkan, full moon blues, Viana!
Barangkali karena akhir pekan kita di beberapa kali purnama selalu terganggu. Tak pernah ada privacy, bahkan di pantai yang sesenyap kamar mandi. Nyaris tak ada bedanya, ketika kita berusaha bertahan lebih lama menikmati malam di bawah bulan. Maafkan ketidak mampuanku memberimu sebuah tempat yang paling sederhana pun di kota ini. Hingga akhirnya, seperti pilihan kita (kukira), kita seolah merasa lebih enjoy di bawah langit, meringkuk di pulau pasir.
Tapi dasar sial, Viana! Selalu saja ada yang berubah menjadi preman-preman pantai yang gayanya melebihi polisi pantai di serial bay wacth waktu itu. Padahal kita selalu menyempatkan barang sebotol dua cocacola yang mereka tawarkan dengan tarif dolar. Dan kita, adalah sepasang turis domestik yang terperangkap dalam sebuah pulau eksotik dengan segala kesan: kita berduit, berada, royal dan lain-lain. Maka hancurlah malam-malam kita. Lalu kita memilih sebuah pantai dalam dunia benak kita.
***
Malam menggerogoti tubuhku, Viana. Lihat saja. Bulan yang hanya sejengkal di atas pelataran itu, kenapakah harus kubiarkan? Apalagi yang mesti kudambakan? Setelah senja berkecil hati karena malam. Setelah malam melabrak lampu-lampu di jalan. Apalagi yang akan kuharapkan?
Aku menyukai malam. Kau tak sekadar latah. Aku tahu, sudah seribu sekian malam kau lalui bersamaku. Di atas balkon. Di atap rumah. Di pelataran. Di taman kota. Di pantai-pantai yang bertebaran dolar. Bulan yang hanya sejengkal di atas kita itu, kenapakah harus kita lewatkan?
Duh, Viana. Malam benar-benar telah menggerogoti tubuhku. Sudah seribu sekian kuhitung bintang jatuh. Sudah seribu sekian kugumamkan permintaan. Doa yang bertubi-tubi. Harapan yang tumpang tindih. Begitu cemaskah aku?
***
Insomnia. Ah, darimana pula kita mengantungi kata itu? Bukan itu sebenarnya yang kita puja. Aku tahu, jika kau bisa kau pun akan membencinya. Tulang-tulang kita serasa patah. Ceruk mata kita kian dalam. Benak-benak kita kian gelisah. Kita begitu mudah jatuh, dan kerap perasaan kehilangan menyergap kita pada malam-malam ketika kota kecil ini begitu lama ditinggalkan cahaya. Beruntung, masih ada bulan. Kita masih bisa merasai remang sinarnya. Kita masih bisa bersyukur ketika didera rutinitas pemadaman listrik (maafkan, di kotaku listrik menyala 24 jam, tetapi pernah harus antre mendapat giliran, harus hemat, betapapun semakin banyak orang yang tak bisa menabung). Tetapi kita mampu menabung kenangan, bukan? Seingatku kita juga pernah sama-sama ditenggelamkan oleh euforia para penyandang sakit asmara. Sakit, Viana!
Dan kita tak pernah menyerah.
Ya, aku tak pernah menyerah, Viana. Betapapun malam begitu larut menggerogoti tubuhku. Setelah seribu sekian malam kau lalui bersamaku?
***
Maka Viana, sejak malam-malam itu aku terus mengingat percakapan ini:
Viana : “Senja itu hanya matahari menjelang bunuh diri!”
Aku : “Bukan, Viana. Itu dakwaan yang sungguh keji dan penuh tendensi.”
Viana :“Lihat saja jika kau tak percaya. Orang-orang hanya lalu lalang. Atau bersembunyi di balik bilik berjeruji gengsi. Berapa dolar mereka tebarkan? Hanya untuk menghabiskan angin pantai, misalnya. Apa mereka juga benar-benar mengagumi matahari yang berwarna oranye?
Aku : “ Mereka pasti banyak melewatkan yang lainnya.”
Viana : “Misalnya?”
Aku : “Senja, dan tentu saja full moon blues?”
Viana : “Tidak praktis begitu. Itu hanya masalah pilihan berdasarkan kemampuan.”
Aku : “Ah, kau mulai bicara standar finansial.”
Viana : “Bukan. Bagi mereka yang punya uang makan-makan dan long time di kamar berbintang. Bagi mereka yang tak punya uang, minumnya di warung kopi, dan bermalam di emper balkon kost-kostan murahan.
Aku: “Apa kau membenci kota ini?”
Viana: “Untung masih ada bulan. Aku tak punya alasan untuk terus-terusan membencinya.”
Aku:“Kau (maafkan aku) seperti turis kesasar. Hanya memuja, mengagumi dan menjadikan pulau ini seperti museum. Hanya mampir, lalu pergi dengan berbagai macam kritikan.”
Viana: “Aku punya semangat eksotik. Apa itu salah? Bukankah kita adalah sedikit dari bagian yang tersisa? Setelah tubuh dan pikiran kita digerogoti malam?”
Aku: “Oke. Aku bisa pahami itu. Setidaknya sampai kau benar-benar pergi dan membawa riset kecilmu tentang kotaku ini. Berapa kau dibayar untuk itu?”
Kau diam. Wajahmu memerah tomat. Mata sempitmu merunduk pada butiran pasir yang berkerumun di kaki. Kaki coklatmu yang kian coklat oleh matahari di tanah yang pernah agraris ini.
***
Malam terus menggerogoti tubuhku, Viana. Lihat saja. Bulan yang hanya sejengkal di atas pelataran itu, kenapakah harus kubiarkan? Apalagi yang mesti kudambakan? Setelah senja ditakut-takuti oleh malam. Setelah malam melabrak lampu-lampu jalanan. Apalagi yang terus kuharapkan?
Percayalah. Aku tak berlebihan semangat eksotik sepertimu. Hanya merasa apa yang kau katakan - dalam percakapan terkhir sebelum kau pergi itu - ada benarnya.
Tak pernah sekalipun aku melupakan, bahwa kau pernah mempertautkanku dengan senja, dengan bulan yang tiba-tiba berbentuk kotak-kotak dan tersendat-sendat menggelinding menuju sempurnanya purnama. Selama itukah kita telah bersabar menunggu?
Ah, Viana. Malam benar-benar telah menggerogoti tubuhku. Sudah beribu sekian kuhitung bintang jatuh. Sudah beribu sekian kugumamkan permintaan. Doa yang bertubi-tubi. Harapan yang tumpang tindih tentang kecemasan-kecemasanku terhadapmu, terhadap kota dimana aku terus tinggal ini.
(cerpen Tjak S Parlan)

senja boleh lindap.. nanti akan ada bulan yang bersinar :)
BalasHapusya, semoga nanti akan ada bulan yang bersinar: tapi jangan terlalu lama, ya... capek nunggunnya ... he he
Hapus