Senin, 18 Juli 2011

dua puisi pagi dan hutan kopi


Sehelai Rambut Pagi

foto: TopTropicals.com/crop
Sehelai rambut
Memutih di bantalku pagi ini

Sungguh, betapa usia tak pernah jauh dari ranjang
Tua bisa dibohongi
Tapi usia lebih suka memilih warnanya sendiri
Seperti pagi ini
Kutemukan usia pada sehelai rambut
Rapuh ia, menyerah pada putihnya pagi

26  Maret  2009



Mencemburui  Pagi

Pagi ini, aku masih seranjang dengan pagi
Jangan cemburu
Manakala pagi melenguh untukku
Sebab lenguhan pagi seperti teratai
Rekah parasnya mengawali hidup dari kolam matamu
yang  menyimpan beribu-ribu plankton mimpi

Selamat pagi
Maafkan, jika siang  masih setia mengubah warna
Pada kolam matamu
yang semalam meriwayatkan percumbuan

Aku juga telah mengabadikan
Pada setiap percakapan dalam  roman yang terselip di lipatan gaun tidurmu
Hingga pagi mekar dan mengajakku tanpa henti
Mengusahakan perjumpaan
Hingga kita tak pernah lagi mencemburui pagi

Maret 2009


Hutan Kopi di Rambutmu

Aku ingin menemukan sarang burung
dan jejak pemburu yang tersesat 
di hutan kopi  
menggelap di rambutmu

Aku  telah menemukannya       satu saja
pejantan  dengan paruh ringkih
dan  rerumput garing
yang dibawa-bawanya dari  padang gembala
ketika musim kering   

Tapi nampaknya   penghujan akan mendera lagi
Di musim kawin paling subur
dinginnya       masihlah kawan berbagi
Dan  di  mangsa  kelahiran
pasti dibutuhkan lebih banyak  angkasa
yang akan kuambil
sebelum  para pemburu  dan  kedatangan burung-burung itu
merompaknya
agar  kelak      anakanakku  bisa berbagi  tempat mengitarinya

Aku ingin membuat  sarang
dari  ingatan-ingatan warna hijau  berseri
yang menjadi gelap
pada hutan kopi
                         di rambutmu

Mataram,  Desember  2009

(puisi tjak s parlan, dimuat koran kampung, edisi 41, 13-19 juli 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar