Sehelai Rambut Pagi
![]() |
| foto: TopTropicals.com/crop |
Sehelai rambut
Memutih di bantalku pagi ini
Sungguh, betapa usia tak pernah jauh dari ranjang
Tua bisa dibohongi
Tapi usia lebih suka memilih warnanya sendiri
Seperti pagi ini
Kutemukan usia pada sehelai rambut
Rapuh ia, menyerah pada putihnya pagi
26 Maret 2009
Mencemburui Pagi
Pagi ini, aku masih seranjang dengan pagi
Jangan cemburu
Manakala pagi melenguh untukku
Sebab lenguhan pagi seperti teratai
Rekah parasnya mengawali hidup dari kolam matamu
yang menyimpan beribu-ribu plankton mimpi
Selamat pagi
Maafkan, jika siang masih setia mengubah warna
Pada kolam matamu
yang semalam meriwayatkan percumbuan
Aku juga telah mengabadikan
Pada setiap percakapan dalam roman yang terselip di lipatan gaun tidurmu
Hingga pagi mekar dan mengajakku tanpa henti
Mengusahakan perjumpaan
Hingga kita tak pernah lagi mencemburui pagi
Maret 2009
Hutan Kopi di Rambutmu
Aku ingin menemukan sarang burung
dan jejak pemburu yang tersesat
di hutan kopi
menggelap di rambutmu
Aku telah menemukannya satu saja
pejantan dengan paruh ringkih
dan rerumput garing
yang dibawa-bawanya dari padang gembala
ketika musim kering
Tapi nampaknya penghujan akan mendera lagi
Di musim kawin paling subur
dinginnya masihlah kawan berbagi
Dan di mangsa kelahiran
pasti dibutuhkan lebih banyak angkasa
yang akan kuambil
sebelum para pemburu dan kedatangan burung-burung itu
merompaknya
agar kelak anakanakku bisa berbagi tempat mengitarinya
Aku ingin membuat sarang
dari ingatan-ingatan warna hijau berseri
yang menjadi gelap
pada hutan kopi
di rambutmu
Mataram, Desember 2009
(puisi tjak s parlan, dimuat koran kampung, edisi 41, 13-19 juli 2011)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar