Senin, 18 Juli 2011

Ingatan Tentang Sarang Burung



ilustrasi: tjak; Bunga Kopi
Aku ingin membuat sarang.
Senyumnya mengembang setiap kali kalimat itu mengiang di telinganya. Suara itu jauh, mirip bisikan hampir tak terdengar di malam larut, saat hujan sedang turun semaunya di luar. Bunyinya jelas, sejelas apa yang tidak diinginkan oleh hatinya. Ia jelas-jelas menginginkan suara itu. Bukan deras hujan.
Ah, celoteh belaka.
Sekarang batinnya menuding. Suara yang berusia puluhan tahun itu mungkin sudah merasuk ke mana-mana. Pindah dari satu telinga ke hati lainnya. Telinga siapa, hati siapa –apakah sekarang giliran hatinya?
Ah, curiga semata.
Lalu hujan menderas lagi. Matanya redup. Matanya hampir mengatup ketika suara gaib itu kembali bersarang di telinganya.
”Aku ingin membuat sarang. Dari ingatan warna hijau. Hijau gelap kebun kopi,” katanya dalam telepon genggam. Ia merekam suara itu, diam-diam, sudah seminggu berlalu.

***

Ia tidak begitu yakin dengan ingatannya sendiri. Tapi yang paling ia sukai adalah mendengar cericit burung yang lupa dikenali namanya. Setiap menjelang Ashar ia selalu berharap akan mendapatkannya di belakang rumah. Gerumbulan dahan-dahan kopi yang rindang lebih menarik minatnya ketimbang televisi hitam putih di ruang keluarga. Televisi yang paling jarang menyediakan cericit burung kesayangan bagi dirinya itu segera ditinggalkannya.  
Kaki kecilnya bergegas, menolak bersandal dan segala ketakutan pada kalajengking. Kata Ibu, untuk sementara sengatan kalajengking bisa diselesaikan di mulut katak. Praktisnya begini : jika kakimu tersengat kalajengking tanpa sengaja, tangkaplah seekor katak, lalu tempelkan moncongnya ke bagian yang tersengat agar si katak-dengan instingnya-menghisap bisa kalajengking di kakimu. Maka sembuhlah kamu. Dan si katak, kaku. Si katak hanya pingsan, tidak mati. Tapi seingatnya ia tidak pernah tersengat kalajengking. Kakinya memang pernah pincang seminggu penuh, itu pun lantaran menginjak pecahan piring tetangga yang di buang sembarangan di belakang rumah dinas perkebunan.
Sambil membayangkan katak dan kalajengking, ia mulai memeriksa dari satu pohon ke pohon yang lainnya. Sedang musim hujan. Burung-burung tidak terbang. Burung-burung lebih senang di dalam sarang. Ia memiliki tiga tempat sekarang. Satu di pohon yang itu, satu di dekat pohon sengon dan satunya lagi agak jauh di sana, di dekat bukit. Ia lebih menyukai yang di dekat bukit. Di sana adalah areal kelapa muda, yang  pohonnya pendek-pendek mirip tubuh laki-laki kate dalam pertunjukkan sulap keliling di lapangan afdelling. Mencicipi kesegaran air buahnya adalah kegemarannya yang lain setelah menjenguk sarang burungnya.
Ia juga sering bertemu laki-laki itu di sana. Laki-laki kecil penyabit rumput. Laki-laki mungil penyabet juara kelas dari Triwulan ke Triwulan di sekolahnya. Terkadang laki-laki itu bersama laki-laki lainnya. Laki-laki tua, kira-kira seumuran kakeknya di kota. Ia lebih senang jika laki-laki itu sendirian saja. Sebab ia selalu memiliki kesempatan barang sebentar menjajal kemampuannya sebagai pemotong rumput. Dasar, Perempuan Kecil Penyabit Rumput!
Ada yang menggelitik senyum tipisnya. Ingatannya terpusat pada luka di tangannya. Luka gores. Kecil saja. Tapi membekas. Dan kenangannya terus bertumbuh besar hingga saat ini.
”Kalau tidak terbiasa, tanganmu bisa terluka.”
”Iya. Masih ada bekasnya sampai sekarang.”
”Punyaku lebih banyak.”
”Nah, ketahuan sekarang. Kamu sering kena, ya?”
”Aku kan penyabit profesional. Pernah sekali dan parah. Bekasnya juga masih ada sampai sekarang. Bagus, seperti arloji mungil di pergelangan tangan sebelah kiri.”
”Tanda abadi. Terus, yang banyak tadi apanya?”
”Kapalannya. Hehm hm ...”
Cara tertawanya tidak berubah. Tidak pernah benar-benar lebar. Mungkin karena ia enggan melepaskan sehelai rumput kering yang terselip di bibirnya, sehingga tawa itu tertahan dan terus mengecil dalam gigitan gigi kirinya, mirip bisikan hampir tak terdengar di malam larut. Seingatnya begitu. Itu pasti jenis tertawa paling hemat yang pernah di dengarnya. Apakah ia masih menggigit rumput?
Ia paling ingat waktu laki-laki itu menertawakannya. Sambil memborehkan daun lamtoro muda yang baru dilumat dalam mulutnya, laki-laki itu meyakinkan bahwa luka pada tangannya akan cepat kering dan besok bisa menulis dengan baik lagi di dalam kelas. Katanya, daun lamtoro yang dikunyah dan bercampur ludah kental akan cepat mengeringkan luka. Entah dari mana datangnya teori itu. Mungkin dari kakeknya, laki-laki tua yang sering bersamanya. Namun dalam pikirannya, di kamar ibunya hanya tersimpan kotak P3K dengan sebotol kecil obat merah dan sebungkus kapas. Itu baru obat luka, namanya. Tidak ada sehelai pun daun lamtoro di dalam kotak P3K itu. Tapi apa hendak ditolak, keesokan harinya luka bekas sabit rumput itu pun mengering juga.
Heh, kamu benar juga, ya. Dasar, Tabib Kecil Daun Lamtoro!”
Si Tabib masa kecil menimpalinya dengan tawa. Jenis tawa paling hening dalam telepon genggam. Tawa laki-laki tiga puluhan tahun di tempat jauh.

***

”Aku ingin membuat sarang. Dari ingatan warna hijau. Hijau gelap kebun kopi,” katanya.
Itu salam pembuka. Dari balik pintu sebuah kedai kopi paling tua di kota itu, laki-laki itu berpura-pura mengejutkannya dari belakang. Laki-laki itu mengambil posisi duduk tepat di depannya. Setelah menatapnya sebentar, ia melolos sesuatu dari balik sweaternya.
”Aku sudah membuat burung sekarang,” katanya, tidak peduli dengan beberapa pengunjung yang memerhatikan sejak kedatangannya tadi.
”Ah, kamu,” balasnya malu-malu.
Ia menerima hadiah kecil dari laki-laki itu: sebuah replika burung mungil tak bernama. Burung masa kecil yang ditatah pada batang tua kopi robusta.
”Kamu perajin ukir, ya?”
”Bukan, aku pematung. Ukiranku kasar.”
”Kopi?”
”Boleh, yang agak pahit.”
Seraya mengagumi burung kayu kopi robusta di tangannya, ia memanggil pelayan untuk secangkir kopi yang dipesan oleh laki-laki masa kecilnya.
Itu pertemuan pertama kalinya sejak dua puluh tahun yang lalu. Sepanjang sore itu mereka saling melengkapi cerita satu sama lainnya. Lebih banyak mengulang cerita-cerita sederhana yang pernah dilalui bersama oleh keduanya. Cerita-cerita lama yang terjadi di bukit, di kebun kopi belakang rumah semasa mereka pernah menjadi anak-anak berangin segar di daerah perkebunan.
”Akhirnya. Ini kotamu, ya?”
”Ya, aku memang asli kelahiran kota ini. Ayahku dulu dapat giliran dinas di sana.”
”Apa kabar semuanya?”
”Baik. Sehat dan sudah pensiun. Kamu sendiri bagaimana?”
”Ya, seperti inilah. Aku menekuni patung.”
”Di mana? Kamu tidak pernah bercerita tentang tempat tinggalmu sekarang.”
”Di sini. Sudah dua tahun aku di sini. Di kotamu, bersama keluarga kecilku.”
Ia ingin melanjutkan pertanyaannya. Tapi jawaban terakhir laki-laki itu membuat tenggorokannya sedikit tercekik. Ia teringat apa yang membuat kebiasaannya berubah sejak menemukan nomor HP laki-laki itu dari salah seorang kawannya. Ia berpura-pura salah kirim pesan pendek berhari-hari, hanya untuk meyakinkan bahwa itu memang benar-benar kawan masa kecilnya dulu –hanya agar ia menjadi penasaran lalu meneleponnya. Dan benar, ia sering mendengar suaranya, laki-laki yang sekarang di depannya, yang berbicara dengan cara paling lain dari seluruh laki-laki yang pernah dikenalnya. Laki-laki yang memertautkannya dengan masa kecilnya dulu. Laki-laki dengan uraian imajinatif tentang sarang burung. Tidak ada yang tahu selama bertahun-tahun, bahwa laki-laki kecil itu sengaja menaruh sarang burung yang dipindahkannya dari tempat lain agar dirinya mudah menemukan tempat bagi kesenangannya. Ia membenarkan cerita itu dengan beberapa detail ingatan, bahwa burung-burung dalam sarang itu bisa berbeda-beda jenisnya dari minggu ke minggu. Ternyata laki-laki itulah si Pemburu Sarang Burung Sejati. Setelah menemukan salah satu di pohon lain, ia memindahkannya ke pohon yang diaku sebagai miliknya, sarang burung temuannya. Alasannya sederhana:
”Karena sarang burung itu harus selalu ada. Agar kamu bisa menemukannya setiap hari,” akunya suatu ketika.  
Alasan sederhana masa kecilnya yang menjadi berbeda ketika dirasakan sekarang, saat ini, ketika laki-laki di depannya mengaku sudah dua tahun tinggal di kotanya. Tak apa. Tapi mengapa harus bersama keluarga. Keluarga kecilku, menurut istilahnya.  Menyadari itu, ia segera menghirup kopinya. Ia kurang suka yang manis, tapi yang ini terasa semakin pahit. Ia tahu, hatinya mungkin sedang mendalam dan berlebihan. Belakangan, dirinya telanjur sering membayangkan bahwa laki-laki itu seekor burung berparuh kecil yang membawa berhelai-helai rumput kering ke pohon sarangnya.
”Sudah berapa. Laki-laki atau perempuan?”
”Yang satu laki-laki. Yang satu perempuan...”
Ia menunggu. Tapi laki-laki itu tak melanjutkan kata-katanya. Laki-laki itu menggamit cangkir di tangannya dan menyeberang meja, mengambil posisi duduk tepat di sampingnya.
”Yang laki-laki aku. Yang perempuan ibuku,” kata laki-laki itu sebelum menghabiskan kopinya.
”Ah, aku kira ...”
Entah mengapa, ia senang laki-laki itu datang sendirian saja sore itu. Dan sore-sore berikutnya ia ingin melihat laki-laki itu hanya bersama dirinya. Ia ingin laki-laki itu mengatakan padanya berkali-kali lagi, seperti yang dikatakannya sekarang,  sebelum mereka berpisah di depan kedai kopi paling tua di kota itu.
”Aku ingin membuat sarang...”
Tapi laki-laki itu tak kunjung mengatakannya. Seekor burung gereja terbang rendah, menuju padang rumput di samping gereja di depan kedai.  Laki-laki dan perempuan itu tidak memerhatikannya.

Ampenan, November 2010    

(cerpen tjak s parlan, dimuat di koran kampung, eds 41, 13 - 19 juli 2011) 

1 komentar:

  1. hampir cerpen dalam laman sederhana kali ini, aku perolehkan untuk (terutama) kawan-kawan masa kecilku di SDN sarongan 2, Pesanggaran-Banyuwangi. Tepatnya SD di Afdeling Sumber Jambe.(Yoyok Bekti Prasetyo, Elviana, Herlan Suwandi, Dwinovita, Parno, sulvi aryani, sumiyati, samin, kencus, iwan dll ... g' bisa kusebut namanya satu-satu ...) ya, kalau sempat dibaca. siapa tahu kesasar dan menemukan halaman ini. (tetap aku ingat kalian dalam hati ....) salam... ellan

    BalasHapus